KITA bisa saja berpikir, bahwa kita kenal
anak-anak kita dengan baik. Tetapi, masih banyak hal yang perlu dipelajari
mengenai balita. Berikut adalah 5 hal tentang balita yang perlu diketahui oleh
para orangtua sebagai berikut ini;
1. Perhatikan si kecil, bukan hanya saat ia bikin salah
Mungkin terdengar
seperti hal kecil, namun, menyisihkan (bukan menyisakan) waktu sekali atau dua
kali sehari untuk berkonsentrasi dan bermain dengan si kecil bisa bantu banyak
dirinya berkembang. Jangan salahkan ia jika banyak hal yang ia lakukan yang ia
buat bikin Orangtua marah. Ingat mengenai gambar-gambar di dinding yang ia
lakukan berulang padahal sudah diberitahu itu tidak boleh? Atau kebiasaan
berulang untuk melompat di atas ranjang? Ya, itu adalah semacam cara barunya
untuk menarik perhatian Orangtua. Sisihkan waktu 15 menit saja per hari untuk
menemaninya dengan sungguh-sungguh, tidak setengah hati sambil main Blackberry.
Anggaplah hal ini sebagai sebuah investasi. Waktu rutin yang Orangtua sisihkan
untuknya akan berbuah sebagai sikap baik dari si kecil, karena ia mendapatkan
atensi positif yang ia butuhkan.
2. Anak-anak butuh untuk menjadi raja atas dirinya
Ya, di usia balita,
anak merasa ia sudah cukup besar untuk menjadi orang yang bisa berpikir
sendiri. Ia merasa sudah tahu banyak hal. Jika ia menolak apa pun yang Orangtua
tawarkan dan meminta banyak hal, ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia ingin
menjadi raja atas dirinya. Trik yang disarankan McCready adalah untuk
menawarkan alternatif. Misal, tawarkan dia beberapa pilihan mudah, seperti mau
sereal atau roti untuk sarapan hari ini? Dengan memilih apa yang ia mau, ia
akan lebih mudah bekerja sama karena merasa sudah bisa memilih sendiri.
3. Ingin tahu banyak hal
Di usia balita,
anak-anak biasanya ingin melakukan banyak hal yang dilakukan oleh orang dewasa.
Ia pun ingin dinilai baik, membuat Orangtua bangga, dan dipuji oleh Orangtua
karena bisa mengerjakan banyak hal yang dilakukan oleh orang dewasa. Tentunya,
ia akan butuh Orangtua untuk mengajarinya. Dengan instruksi sederhana, ia
mungkin sudah bisa membantu Orangtua mencari pasangan dari kaus kaki yang baru
selesai dicuci, menaruh alas piring di meja makan, memberi makan si kucing, dan
lainnya. Mengajarkan si kecil mengerjakan pekerjaan yang lebih bermakna akan
memberinya rasa kepercayaan diri dan kemandirian.
4. Tantrum
Jika si anak sudah
mendapatkan perhatian yang ia butuhkan, seharusnya ia tak akan menimbulkan
tantrum dan kemarahan untuk menarik perhatian Orangtua. Namun, jika ia masih
saja marah-marah dan melempar tantrum, pastikan ia berada di tempat yang aman
serta tidak mengganggu orang lain, biarkan ia mengeluarkan emosinya agar ia
tahu bahwa perbuatannya itu tak akan mendapatkan perhatian atau kekuasaan
karena bisa melakukan hal tersebut. Bukan hal menyenangkan untuk melempar
tantrum saat tak ada penonton.
5. Ia butuh Orangtua untuk mendengarnya
Anak-anak belum
bisa berkomunikasi dengan lancar selayaknya orang dewasa berkomunikasi. Ada
kalanya ia mengalami kesulitan untuk memberitahu apa yang ia rasa, yang ia
pikirkan, atau pun yang ia baru saja lihat. Saat ia berusaha bicara dengan Orangtua,
bersabarlah, tenangkan diri dan pikiran, turunkan badan setingginya, lalu coba
berbagai strategi untuk memahami maksudnya (misal, menunjuk barang). Semakin Orangtua
bisa mengerti caranya untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun bahasa
tubuh, ia akan makin percaya diri, dan makin berkurang pula tantrumnya.
Dengan memberinya
perhatian dan kekuatan positif, Orangtua tak hanya menghindari banyak perilaku
tak menyenangkan darinya, tetapi juga menyiapkannya untuk mandiri sepanjang
masa kecilnya. (*)
